Majelis Dzikir Asmaul Husna dan Ratib Al-Athos

Artikel Post New Entry

Perjalanan Hijrah Rasulullah SAW

Posted by Admin on February 27, 2010 at 1:22 PM

 


Rasul shallahu 'alihi wasallam bersabda : 

 

رَأَيْتُ فِي اْلمَنَامِ أَنِّي أُهَاجِرُ مِنْ مَكَّةَ إِلَى أَرْضٍ بِهَا نَخْل 

" Aku melihat di dalam mimpiku , bahwa aku akan hijrah ke tempat yang hijau yang terdapat banyak pohon kurma ".


Maka semua orang tahu bahwa tempat yang dimaksud adalah kota Yatsrib yaitu Madinah Al Munawwarah . Maka mulailah para sahabat hijrah . Perlu diketahui bahwa hijrahnya Rasul itu bukan di bulan Muharram tetapi pada tanggal 1 Rabi'ul Awwal. Lantas mengapa 1 Muharram dijadikan awal perhitungan hijriah, karena pada saat 1 Muharram itulah munculnya izin bagi Rasul untuk hijrah, dan para sahabat mulai hijrah ke Madinah pada 1 Muharram diantaranya adalah Sayyidina Utsman dan sahabat lainnya mulai hijrah , tetapi Rasulullah SAW masih bertahan di Makkah, beliau masih sibuk mengatur, meskipun rumah beliau sempit tetapi beliau memiliki kantor juga, kantor untuk penitipan amanat, jika ada yang akan pergi ke luar Makkah untuk beberapa lama maka barang-barang berharga akan dititipkan disana, atau mungkin ada yang mempunyai anak dan membutuhkan orang yang bisa menyusuinya maka meminta bantuan kepada Rasulullah untuk mencarikannya, inilah shahibul amanah maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam masih bertahan di Makkah Al Mukarramah menyelesaikan amanahnya terlebih dahulu, yaitu barang-barang yang dititipkan kepada beliau shallallahu 'alaihi wasallam, termasuk juga barang-barang Abu Lahab dan Abu Jahl dan semua musuh-musuhnya juga menaruh amanah kepada Rasul shallallahu 'alaihi wasallam karena beliau adalah orang yang paling amanah.


Dan ketika telah selesai semua amanahnya, barang-barang dikembalikan kepada pemiliknya, maka Rasul mulai melakukan hijrah, malam itu malam 1 Rabi'ul Awwal beliau keluar sebagaimana riwayat Shahih Al Bukhari, Sirah Ibn Hisyam dan lainnya, dan menginap di goa Tsur selama tiga malam dan pada hari ketiga melanjutkan perjalanan dan dikejar oleh Suraqah, sebelum ia masuk Islam, Suraqah mempunyai ketajaman di dalam memahami jejak, jadi kalau ada sepuluh langkah maka Suraqah ini bisa membedakan, biasanya kita bertanya yang mau kita cari ciri-cirinya bagaimana, tinggi badannya, umurnya dan lainnya. Tapi Suraqah bisa mengetahui langkah kudanya atau keledainya, bukan langkah orangnya karena orang-orang zaman dahulu tidak jalan kaki.


Di setiap harinya ratusan orang keluar Makkah, maka Suraqah berkata :  "tidak perlu orang lain, aku sendiri yang akan mengejar Muhammad" yang lain tidak usah ikut mengejar, kalau sudah Suraqah yang mengejarnya maka yang lain tidak ada gunanya. Maka Suraqah keluar mencari dan kemudian menemukannya, karena memang pakarnya, kalau dalam bahasa kita adalah bagian tim penyelidik, pencari jejak. Abu Bakr As Shiddiq orang yang sangat cinta kepada Rasul shallallahu 'alaihi wasallam yang selalu menjaga Rasul dari bahaya, yang terkadang di depan Rasul, terkadang di samping beliau, terkadang di belakang beliau. Beliau di belakang Rasul berfikir kalau ada jurang yang tajam di depan Rasul atau ada pegunungan barangkali ada orang di atas sana yang ingin memanah, maka Abu Bakr lari ke depan supaya kalau ada panah maka akan terkena ke beliau bukan terkena Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, dan ketika ia melihat di sebelah kiri banyak pohon kaktus maka ia lari ke sebelah kiri khawatir ada orang yang menyerang Rasul dari kiri, terus seperti itu yang dilakukan Abu Bakr As Shiddiq karena risau dan cintanya kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.


Ketika Abu Bakr melihat ke belakang ternyata ada orang yang mengikuti mereka maka Abu Bakr berkata : "Ya Rasulullah ada orang yang mengejar kita di belakang ", tapi Rasulullah tetap berjalan dengan tenang sambil membaca Al Quran Al Karim, Rasul adalah orang yang paling damai dan tenang tidak risau dengan segala yang terjadi di alam semesta, di hadapannya keagungan Allah subhanahu wata'ala maka Rasulullah tetap santai saja berpaling pun tidak, sedangkan Abu Bakr berkata dengan risau : "Wahai Rasulullah orangnya semakin mendekat ", tapi Rasulullah tetap diam.


Yang ketiga kalinya Abu Bakr berkata : "Wahai Rasulullah yang datang adalah orang yang bersenjata, dia pakai perisai, membawa pedang dan tombak ". Maka Rasulullah hanya melirik sedikit dan berjalan maka Suraqah dan kudanya di pendam oleh bumi sampai ke lutut kudanya, Suraqah tidak bisa maju lagi, maka Rasulullah terus berjalan dan Abu Bakr terus melihat ke belakang, terlihat Suraqah mundur maka Suraqah keluar dari pendaman tanah itu, dan ketika dia maju lagi untuk mengejar Rasulullah ia pun terpendam lagi oleh tanah, terus saja begitu, ketika ia mundur ia terbebas dari pendaman tanah dan ketika ia maju maka ia kembali di pendam oleh tanah. Maka ia berkata : "Wahai Muhammad", maka Rasululullah pun menoleh sedikit dan Suraqah pun terlepas dari pendaman tanah itu, kemudian ia kembali mengejar dan ketika semakin dekat ia di pendam lagi oleh bumi, maka ia berkata : "Wahai Muhammad", maka Nabi Muhammad menoleh seakan-sekan memberikan isyarat kepada bumi untuk melepaskan Suraqah, kemudian berjalan lagi, maka Suraqah terbebas dari pendaman bumi. Dan yang ketiga hampir tombak Suraqah mengenai belakang kuda Abu Bakr As Shiddiq, maka Abu Bakr berkata : "Wahai Rasulullah orang itu sudah dekat dengan kita" , maka Rasulullah berkata : "Ya Allah pendam dia sampai setengahnya" , maka terpendamlah Suraqah sampai ke leher kudanya, maka Suraqah tidak bisa bergerak, mundur tidak bisa, maju pun tidak bisa, maka ia mengangkat tombaknya dan berkata : "Aku menyerah, aku menyerah".


Maka Rasul berdoa dan Suraqah keluar dari tempatnya, kemudian Suraqah berkata : "wahai Muhammad, aku tidak akan mengejarmu lagi, tapi sebelum aku pergi berikan aku secarik surat bahwa aku pernah berjumpa denganmu", maka disimpanlah surat itu oleh Suraqah kemudian pulang. Maka kuffar Qurays berkata : "Wahai Suraqah sudah kau temukan Muhammad ?, jika tidak maka kami siap mencarinya", maka Suraqah berkata : "kalau aku sudah mencarinya dan tidak ketemu apalagi kalian, mereka sudah pergi tidak tahu kemana arahnya, entah ke Syam, entah ke Persia, entah ke Baghdad entah kemana saya tidak tahu, jejaknya tidak ketemu". Maka Rasulullah terus melanjutkan perjalanannya dan ketika waktu dhuha, dan terik matahari mulai terasa maka mereka mencari tempat untuk berteduh, kemudian Abu Bakr As Shiddiq menaruh rida'nya ( sorban ) di buka dan dibentangkan di tanah dihadapan Rasulullah, karena tanah itu panas terkena sinar matahari. Maka rida'nya yang tebal dibentangkan supaya Rasulullah duduk tidak terkena tanah yang panas itu, maka Rasulullah beristirahat.


Kemudian Abu Bakr pergi ke beberapa penjuru barangkali ada air atau susu, maka beliau membeli air dan susu dari penggembala yang jauh dari tempat itu. Dan beliau kembali membawa susu itu yang ditutup dengan rida'nya yang satunya, dan ia mempunyai kain lain yang juga menutupi air agar jangan sampai terkena debu, sampai beliau duduk dihadapan sang Nabi maka ia meniup tutup dari bejana susu itu supaya bersih dari debu, barulah kemudian dihadapkan ke Rasulullah, "Minumlah wahai Rasulullah", maka Rasulullah meminumnya lantas setelah itu Abu Bakr As Shiddiq memberikan air, dan Abu Bakr As Shiddiq berkata : "Wahai Rasulullah mari kita berjalan lagi", maka Rasulullah berjalan sampai di suatu goa dan Rasul shallallahu 'alahi wasallam masuk ke goa itu untuk beristirahat, terlihat di dalamnya terdapat banyak lubang dan itu adalah sarang ular, maka Abu Bakr mulai menutupinya dengan batu, tanah dan kain bahkan pakaiannya ada yang disobek untuk menutupi lubang-lubang itu, tertinggal satu lubang belum tertutup.


Kemudian Rasulullah tidur di pangkuan Abu Bakr As Shiddiq maka Abu Bakr tertuju kepada satu lubang itu yang belum ditutup dan yang lain aman, begitu ia melihat ada yang bergerak dan ternyata seekor ular yang keluar maka ditutup dengan tangannya dan ular itu menggigit dan terus menggigit tangan Abu Bakr. Abu Bakr As Shiddiq hanya diam tidak berani bergerak, karena tidak ingin membangunkan Rasulullah shallallahu 'alihi wasallam yang tidur di paha beliau. Ia biarkan tangannya hancur terkena gigitan ular itu yang sakit dan pedihnya tidak bisa ia tahan namun tidak berani bersuara apalagi bergerak, karena takut membangunkan Sayyidina Muahammad shallallahu 'alaihi wasallam, maka ketika air mata mengalir tidak tahan merasa sakit yang demikian dahsyat, maka airmata itu terjatuh terkena ke wajah Rasulullah, maka Rasulullah terbangun dan berkata : "kenapa kau wahai Abu Bakr ? maka Abu Bakr menjawab : "ular wahai Rasulullah", maka Rasulullah berkata : "Angkat tanganmu", maka tangannya diangkat kemudian Rasulullah meludahi tangan bekas luka yang hancur karena gigitan ular, dan tangan sayyidina Abu Bakr As Shiddiq sembuh seperti semula, lalu Abu Bakr As Shiddiq membunuh ular itu.


Para Ulama' mengatakan di antaranya Al Musnid Al Hafidz Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, beliau mengatakan bahwa ular itu datang bukan ingin menggigit atau mengganggu Rasul, tetapi ular itu datang ingin melihat wajah Nabi Muhammad shallallahu 'alihi wasallam, mencari lubang di sana sini semua tertutup, dan ketika ada lubang terbuka ternyata ada orang yang menghalanginya untuk memandang wajah Rasulullah maka ular itu menggigit berkali-kali, karena biasanya ular berbisa itu kalau menggigit hanya sekali saja tidak berkali-kali, tetapi ular ini menggigit terus agar Abu Bakr melepaskan tangannya dan ular itu bisa melihat wajah nabi Muhammad shallallahu 'alaihin wasallam. Seluruh makhluk mencintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.


Maka perjalanan dilanjutkan sampai pada hari yang ke-12 hari Senin 12 Rabiul Awal, dan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke Madinah Al Munawwarah maka di saat itu disambut dengan qasidah :


طَلَعَ اْلبَدْرُ عَلَيْنَا مِنْ ثَنِيَّةِ اْلوَدَاع


Kemudian Rasul mencari tempat untuk membangun rumah sekaligus masjid beliau di sebelahnya. Maka sampailah ke suatu tempat yang di sebut tanah penyimpanan gudang kurma milik dua orang yang bernama Sahal dan Suhail, maka Rasul ingin membelinya tapi Suhail berkata : "tidak wahai Rasulullah kami hadiahkan tanah kepadamu", tetapi Rasulullah menjawab : "tidak, tetapi harus dengan harga", maka dibayarlah kepada Suhal dan Suhail, dan mulailah di bangun masjid dan rumah Rasul shallallahu 'alaihi wasallam yang sekarang di kenal dengan Masjid Nabawy dan saat itu Rasul ikut mengambil batu bata dan memindahkannya satu persatu dengan tangan beliau dan beliau sambil membaca qasidah.


Tetapi zaman sekarang orang-orang mengatakan qasidah itu bid'ah, karena dangkalnya pemahaman mereka terhadap ilmu hadits, qasidah dibacakan oleh Rasul, Rasul berkata :


اَللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشَ اْلأخِرَةِ فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَةِ

"Wahai Allah tiada kehidupan yang lebih sempurna melebihi kehidupan akhirah, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin". Maka di jawab oleh para sahabat, tapi orang sekarang berkata "iya zaman Rasul membaca syair dan pujian kepada Allah dan Rasul diperbolehkan, karena Rasul sendiri yang membacanya", perkataan yang seperti ini karena mereka tidak mengetahui ilmu hadits, di dalam riwayat Shahih Al Bukhari ketika Rasul membaca qasidah, maka para sahabat menjawabnya beramai-ramai :


نَحْنُ الَّذِيْنَ بَايَعْنَا مُحَمَّدًا عَلَى الْجِهَادِ ماَ بَقِيْنَا أَبَدًا

Kami yang bersumpah setia untuk Islam dan Jihad, maka kami siap untuk selalu membela Nabi Muhammad, demikianlah yang sampaikan oleh para sahabat. Jadi qasidah yang dibaca bersaut-sautan itu bukan bid'ah tetapi itu adalah sunnah yang sudah mulai tidak di kenal lagi sehingga di anggap bid'ah. Sebagaimana sabda Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa salah satu tanda hari kiamat adalah : Yang menganggap bid'ah sebagai sunnah, dan sunnah dianggap bid'ah, yang mengatakan bahwa tukang sihir adalah, dan wali Allah dikatakan sebagai tukang sihir, hal itu adalah salah satu dari tanda-tanda hari kiamat. Dan yang demikian telah terjadi sekarang, hal yang sunnah dilarang di Masjid karena kedangkalan pemahaman terhadap syariat muthahharah.


Hijrah tidak berhenti di saat itu walaupun delapan tahun kemudian Rasul shallallahu 'alaihi wasallam kembali menuju Fath Makkah, dan di saat itu Suraqah termasuk orang yang di tangkap, dan para sahabat tahu bahwa orang itu adalah yang dulu mengejar Rasul shallallahu 'alaihi wasallam di saat hijrah, maka mereka pun menangkap Suraqah. Setelah ditangkap Suraqah berkata : "bebaskan aku , aku tamu mulia Rasulullah", maka para sahabat bertanya : "bagaimana kamu mengaku sebagai tamu mulia Rasulullah ?", maka Suraqah menjawab : "ini aku punya surat sebagai bukti bahwa aku pernah berjumpa dengan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam saat beliau hijrah bersama Abu Bakr As Shiddiq, surat ini sebagai bukti yang akan membawaku ke hadapan Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam sekarang", dan setelah bertemu dengan Rasul, maka Rasulullah memeluk Suraqah teringat beberapa tahun yang lalu berjumpa dengan Suraqah di saat beliau hijrah, maka Rasul berkata : "Suraqah dibebaskan".


Inilah indahnya sunnah Sayyidina Muhammad, inilah indahnya budi pekerti beliau dan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :


لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ اْلفَتْحِ

" Tidak ada lagi hijrah setelah Fath Makkah "Maksudnya adalah tidak ada lagi hijrah setelah Fath Makkah karena Makkah sudah menjadi kota suci, dan sudah disucikan dari berhala maka tidak perlu lagi orang-orang hijrah dari Makkah ke tempat lain karena Makkah itu sudah menjadi temapat suci. Tapi ada hijrah-hijrah agung yang ditawarkan kepada kita diantaranya sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang tadi telah kita baca, yang mana datang seorang dusun kepada Rasulullah dan berkata : "aku ingin dibaiat untuk hijrah", maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata : "Apa kau tidak salah bicara, hal itu adalah masalah yang sangat berat dan dahsyat, apakah engkau sudah keluarkan zakatmu ?", maka orang itu menjawab : "sudah wahai Rasulullah", maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata : "maka beramallah dari belakang lautan, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan amalmu sedikitpun".


Demikian indahnya cinta Allah subhanahu wata'ala menghargai amal perbuatan kita, maksudnya adalah, Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa walaupun kita beramal dari tempat yang jauh dari Makkah, jauh dari medan hijrah, jauh dari zaman para sahabat sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan amal kita, maka hijrah masih ditawarkan kepada kita, hijrah terus berlangsung setelah selesainya masa Khulafaa Ar Rasyidin. Maka hijrahlah Al Imam Ahmad Al Muhajir ke Hadramaut, sesampainya di Hadrmaut di cela oleh para ulama' lainnya. Ini Imam besar, berbudi baik dan keturunan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam mengapa justru melarikan diri dan menghindar, apakah dia takut dengan mati syahid, kenapa lari ke Hadramaut ?!, arti hadramaut itu adalah "hadir dan meninggal", karena demikian tandusnya disaat itu tidak pepohonan disana maka disebut Hadramaut. Yang ingin menguasai Negara Yaman ia tidak bisa menguasai Hadramaut, karena kalau masuk kesana maka akan meninggal sebab begitu tandusnya, padang pasir yang sangat panas karena merupakan bagian dari Arab Tsamud yang pernah turun bala' disana di masa-masa yang lalu. Al Imam Ahmad Muhajir pindah kesana bersama keluarganya, banyak orang yang mencelanya karena saat itu di Baghdad terjadi banyak masalah, bukannya membantu menyelesaikan masalah ummat justru pindah dan membawa keluarganya ke Hadramaut.


Maka Al Imam Ibn Hajar masuk ke celah-celah tempat tandus yang tidak ada pepohonan, dan dia mulai tinggal di sana di bumi Hadramaut hingga ia wafat. Orang-orang berkata bahwa Al Imam Ahmad Al Muhajir adalah ulama' besar tapi ia pendam ilmunya di Hadramaut, dan meninggal di tengah padang tandus, ternyata tidak demikian, justru keluarganya Al Imam Muhammad bin Isa yaitu saudara kandung Al Imam Ahmad Al Muhajir yang wafat fi sabilillah, tapi keturunannya berkesinambungan, diantaranya Al Imam Ali khali' Qasm dan keturunan selanjutnya muncullah di kota Tarim, kenapa dia memilih Hadramaut kota Tarim, karena di saat Rasul shallallahu 'alaihi wasallam wafat maka kekhalifahan di pegang oleh Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq dan ada orang di Hadramaut yang memberontak atas kekhalifahan Abu Bakr, maka Abu Bakr As Shiddiq mengirim utusan ke wilayah-wilayah yang banyak memberontak terhadap kepemimpinan Abu Bakr As Shiddiq, diantaranya yaitu ke Hadramaut di wilayah Yaman yang mana Abu Bakr mengirim ratusan sahabat dan belasan diantaranya adalah Ahlul Badr (yang hadir di perang Badr) untuk membela Tarim dan Hadramaut dari para pemberontak, dan di kota Tarim ada gunung yang disebut Jabal khailah (gunung kuda), kalau kita datang dari wilayah Seun dan masuk menuju ke wilayah Aidid, maka posisi gunung itu di sebelah kanan berhadapan dengan perkuburan Ahlul Badr, yang mana disitu adalah tempat turunnya pasukan kuda Ahlul Badr dan para sahabat dari Madinah Al Munawwarah.


Jadi, jalan terdekat menuju Madinah jika menggunakan onta atau keledai adalah melewati Jabal Khailah, karena disitulah tempat turunnya para sahabat pasukan berkuda dari Madinah, maka disebut dengan Jabal Khailah. Maka mereka berjihad dan di antara yang wafat dikuburkan di Tarim, dan ketika meninggal Al Imam Ali bin Alwy Khali' Qasm keturunan dari Al Imam Ahmad Al Muhajir ia meminta dikuburkan dekat dengan Ahlul Badr, seperti itulah keadaan para shalihin kita. Ahlul Bait tidak ada rasa benci terhadap para sahabat, demikian pula sahabat sangat mencintai Ahlul Bait, inilah umat Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Al Imam Ali Khali' Qasm meminta supaya dikuburkan dekat dengan Ahlul Badr, maka diwakafkan tanah yang luas dikhususkan untuk keluarganya agar berdampingan dengan Ahlul Badr, mereka kaum Muhajirin dan Anshar bersama di Madinah, di perang Badr bersama hingga sampai di Hadramaut mereka bersama.


Demikianlah hingga sampai kepada Al Imam Al Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali Baa'alawy pimpinan Thariqah Alawiyah yang sebenarnya pemimpin Thariqah 'Alawiyah ini adalah Sayyidina Muhammad shallallahu 'alihi wasallam, karena memadukan antara hakikat dan syariah, kalau thariqah lainnya kebanyakan hanya cenderung kepada hakikat saja, tetapi thariqah Alawiyah memadukan antara syariah dan hakikat. Maka di antara keluarga dan keturunan Al Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali Baa'alawy di kota Tarim, banyak yang berangkat menuju Gujarat kemudian merapat ke Jawa dan masuk ke Tegal, Gresik, Pekalongan dan lainnya. Daerah sembilan wali yang kita kenal, mereka itu adalah keluarga dari Al Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali Baa'alawy.


Demikianlah rahasia hijrah, dari Makkah ke Madinah, dari Madinah ada sebagian yang hijrah ke Baghdad, dari Baghdad Al Imam Ahmad Al Muhajir hijrah ke Hadramaut, dan dari Hadramaut sebagian keturunannya hijrah ke pulau Jawa, lalu apa yang terjadi di pulau Jawa ini ?, maka jadilah negeri ini Negara muslimin terbesar di muka bumi, karena rahasia keagungan hijrah. Mereka datang tidak dengan senjata atau pasukan, tetapi mereka datang membawa niat untuk menuju keluhuran Allah subhanahu wata'ala.

 


Oleh : Habib Munzir bin Fuad Al-Musawwa

Categories: Perihal Agama Islam

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments

Acara yang akan datang :

Tuesday, May 22 at 6:30 AM - 8:30 AM
Tuesday, May 29 at 6:30 AM - 8:00 AM
Tuesday, Jun 5 at 6:30 AM - 8:30 AM
Sunday, Jun 10 at 6:30 AM - 8:30 AM


MR Radio Online

Jadwal siaran : Senin dan Sabtu, Jam 20.30 - 22.30 WIB